Friday, November 04, 2016

Harmoni Alam melalui Kesenian Sandur

Oleh : Ferly Arvidia Anindita


Pada ujung barat bagian utara Kota Bojonegoro, tepatnya di wilayah bantaran Sungai Bengawan Solo, terdapat sebuah desa bernama Desa Ledok Kulon. Berjarak kurang lebih dua kilometer dari arah Kota Bojonegoro. Masyarakat di Desa Ledok Kulon mayoritas adalah pengusaha tahu, namun ada juga yang berternak sapi, bertani, juga sebagai nelayan. Melihat letaknya yang berada di bantaran sungai tersebut. Tak hanya itu, banyak seniman besar di Bojonegoro yang lahir dari Desa Ledok Kulon tersebut.
Penduduk di Ledok Kulon umumnya sangat ramah dan guyub rukun. Budaya lokalnya juga terasa masih kental. Seperti adanya kisah Ki Andong Sari di desa tersebut. Tak hanya itu, ada suatu kesenian yang masih tetap hidup selama ratusan tahun hingga saat ini. Awalnya, kesenian tersebut merupakan permainan anak-anak gembala, sebelum dikenalnya agama oleh manusia. Kesenian tersebut dikenal dengan nama Sandur.
Sandur adalah permainan anak-anak yang sangat sederhana. Mengajarkan kita tentang apa itu arti kehidupan. Apa itu hidup? Dan seiring berkembangnya zaman, Sandur menjadi sebuah pertunjukan di kalangan masyarakat. Karena kesederhanaannya itulah, saya tertarik dengan Kesenian Sandur ini.
Sandur dikenal dengan banyak arti. Ada yang menyebutkan bahwa Sandur berasal dari kata “beksane mundur”. Beksan berarti tarian, jadi diartikan menjadi tarian mundur. Karena ditarikan dengan cara mundur. Lalu, ada pula yang menyebutkan bahwa Sandur bersal dari kata “isan” dan “tandur”. Arti isan sendiri adalah sesudah, jadi maksud permainan Sandur itu adalah perwujudan syukur pada Sang Pencipta setelah melakukan tandur atau menanam tanaman pertanian, biasanya seperti padi, randu, dan lain sebagainya. Namun, banyak masyarakat setempat termasuk Bapak Djagat Pramudjito meyakini bahwa Sandur berarti “sanepane urip”. Maksudnya, Sandur merupakan perlambang hidup. Karena di dalamnya menceritakan tentang kisah hidup manusia sejak lahir hingga tutup usia.
Sandur adalah seni teater tradisional yang biasanya ditampilkan saat seusai tandur, saat hajatan, atau acara lainnya. Sandur biasa ditampilkan pada sebuah arena atau tanah lapang. Dan dibentuk suatu panggung yang disebut dengan “Blabar Janur Kuning”, memiliki luas sekitar 8 x 8 meter persegi. Lalu, di bagian kanan kirinya diberi bambu sepanjang sepuluh hingga dua belas meter, dan dikaitkan dengan seutas tali tambang pada setiap ujungnya.
Pertunjukan Sandur diawali dengan tokoh Germo yang “nggundhisi” atau memberikan prolog sebagai pembukaan. Lalu, memanggil dewa-dewi dari kahyangan untuk turun ke bumi. Dilanjutkan dengan menyanyikan tembang-temabng dolanan yang dilantunkan oleh Panjak Hore, diiringi dengan tabuhan gendang dan gong bumbung yang dimainkan oleh Panjak Gendang dan Panjang Gong. Lalu, dilanjutkan dengan penampilan jaranan. Dan disusul oleh Cawik, Balong, Pethak, dan Wak Tangsil yang dirasuki oleh dewa-dewi kahyangan. Cawik dirasuki oleh Dewi Suprobo, Balong dirauki oleh Dewi Drustanala, Pethak dirasuki oleh Dewi Wirutama, dan Wak Tangsil dirasuki oleh Dewi Gegar Mayang.
Keempat pemain Sandur tersenut mengenakan busana anak wayang atau merupakan busana kahyangan. Maka dari itu, ada yang menyebutkan bahwa Sandur berasal dari kata “busanane dhuwur”. Untuk tokoh Germo dan Pancak mengenakan pakaian serba hitam. Germo sendiri diyakini berasal dari kata “blegere sukmo”. Maksudnya adalah badan yang besar. Jadi, ciri khas dari Germo itu sendiri adalah memiliki badan yang besar.
Dalam Sandur, diceritakan kehidupan manusia mulai dari mencari pekerjaan, lalu bercocok tanam. Diceritakan mulai dari menanam padi, tembakau, hingga menanam randu. Salah satu hama randu adalah kelelawar. Nah, adegan menanam randu inilah sebagai pertanda bahwa pertunjukan Sandur akan segera berakhir. Dengan munculnya kelelawar atau “kalong” yang melakukan atraksi akrobatik bernama Kalongking. Kalongking itu sendiri merupakan simbol dari kehidupan manusia. Mulai dari awal, pemain kalongking menaiki bambu yang berada di samping blabar, lalu beratraksi di atas tali tambang. Sedangkan pemain kalongking tersebut dibedhili atau ditembak, karena kelelawar dianggap sebagai hama oleh masyarakat setempat. Namun, meskipun begitu kelelawar juga makhluk ciptaan Tuhan, dan mereka juga butuh hidup.
Biasanya pertunjukan Sandur ini berlangsung dari pukul sembilan malam hingga menjelang Shubuh. Pertunjukan ini ditujukan untuk semua kalangan. Masyarakat setempat sangat berantusias untuk melihat pertunjukan tradisional ini. kesenian Sandur masih bertahan hingga saat ini, karena juga terdapat suatu kelompok Sandur yang masih aktif hingga saat ini. Untuk nama kelompok Sandur Sekarsari sebenarnya sudah dibentuk sejak tahun 1995. Namun sebenarnya kelompok Sandur ini sudah berdiri sejak lama. Diprakarsai oleh seorang yang dikenal dengan nama Mbah Pahing, lalu dilanjutkan oleh putranya yang bernama Mbah Sukadi.
Terdapat tokoh-tokoh Sandur terkenal seperti almarhum Pak Masnoen yang biasa memerankan Germo. Pak Masnoen ini membentuk kelompok Sandur baru pada 2010 yang diberi nama Sandur Kembang Desa yang dikelola oleh Sanggar Sayap Jendela. Sandur dalam kelompok ini sudah tidak lagi menggunakan hal-hal magis seperti memanggil dewa-dewi dari kahyangan yang sekaligus dianggap sebagai ajaran Agama Hindu. Semuanya murni dari keahlian manusia itu sendiri.
Mengingat pada tahun 75-an lalu, Sandur sempat ditentang oleh pihak-pihak beragama Islam, bahwa Sandur tidak layak lagi untuk ditampilkan karena menganut ajaran-ajaran Hindu. Terbukti bahwa adanya tembang “Ilir Gantu” di awal pertunjukan itu, menunjukkan adanya ajaran Hindu. Pada akhirnya Bapak Djagat Pramudjito  ̶ seorang seniman Sandur pun mengubah lirik-lirik tembang yang mengandung ajaran Hindu dengan kalimat yang lebih bisa diterima oleh masyarakat setempat yang saat itu sudah banyak yang memeluk Agama Islam. Meski sebagian besar lirik tembang-tembang dalam Sandur diubah, tembang tersebut tetap tidak menghilangkan ciri khas dari Sandur itu sendiri.
“Aja haru biru, anak Adam gawe dolanan…”
Merupakan sebuah awalan yang menandakan bahwa Sandur adalah permainan anak-anak. Dan seiring berjalannya waktu, dikemas menjadi sebuah pertunjukan teater tradisional. Namun, sayangnya belum banyak yang mengenal kesenian daerah ini.
Sandur terdiri dari empat pemain utama, dan satu pemain penyempurna. Yang memiliki makna “papat limo pancer”. Yakni menggambarkan tentang empat sifat dasar manusia, yaitu plegmatis, melankolis, sanguinis, dan koleris. Sedangkan limo pancer digambarkan oleh sosok Germo yang berarti “paugeran limo”.
Dahulu, Sandur ditampilkan saat sesudah menanam padi atau tanaman pertanian lainnya. Saat ini Sandur bisa ditampilkan jika ada hajatan, pertunjukan seni, atau acara lainnya. Misalnya, ditanggap oleh seseorang yang sedang memiliki acara. Pendapatan dalam pertunjukan Sandur ini tidak tetap. Menurut salah satu pemain Sandur yang saya temui, biasanya pendapatannya disesuaikan dengan seberapa jauh jarak yang ditempuh untuk menampilkan Sandur. Bila tempat pentasnya semakin jauh, maka pendapatannya juga semakin bertambah. Karena terdapat biaya untuk transportasi. Jika tampil di dalam kota saja, pendapatannya bisa mencapai empat hingga lima juta rupiah.
Tidak seperti dahulu, pertunjukan Sandur tidak akan tampil jika pemainnya belum berjumlah empat puluh empat orang. Supaya Sandur bisa segera dimainkan, banyak penonton yang ikut serta memasuki blabar, dan berperan sebagai panjak hore. Lantas, mengapa hal itu dapat terjadi? Karena pada zaman itu, pertunjukan Sandur masih menggunakan bantuan dewa-dewi dari kahyangan. Sedangkan jumlah dewa-dewi yang turun adalah empat puluh empat, maka juga harus ada empat puluh empat pemain Sandur untuk dirasuki keempat puluh empat dewa-dewi tersebut.

Sandur menceritakan tentang kesederhanaan kehidupan manusia. Sandur mengajarkan kepada kita tentang keselarasan hidup manusia dengan alam semesta. Dengan kesederhanaan itulah kita harus melestarikan kesenian sandur agar tidak mati. Agar generasi penerus kita mengerti jika ada kesenian tradisional yang tidak kalah menarik dengan budaya-budaya asing yang semakin menjamur di masa kini. Sebagai penduduk asli Bojonegoro, sudah saatnya kita memperkenalkan kesenian sandur kepada masyarakat luas. Agar rakyat Indonesia bisa mengenal sandur secara dekat. Lalu apa lagi? Mari kita memulainnya!! 











1 comments:

Post a Comment