Friday, November 04, 2016

Harmoni Alam melalui Kesenian Sandur

Oleh : Ferly Arvidia Anindita


Pada ujung barat bagian utara Kota Bojonegoro, tepatnya di wilayah bantaran Sungai Bengawan Solo, terdapat sebuah desa bernama Desa Ledok Kulon. Berjarak kurang lebih dua kilometer dari arah Kota Bojonegoro. Masyarakat di Desa Ledok Kulon mayoritas adalah pengusaha tahu, namun ada juga yang berternak sapi, bertani, juga sebagai nelayan. Melihat letaknya yang berada di bantaran sungai tersebut. Tak hanya itu, banyak seniman besar di Bojonegoro yang lahir dari Desa Ledok Kulon tersebut.
Penduduk di Ledok Kulon umumnya sangat ramah dan guyub rukun. Budaya lokalnya juga terasa masih kental. Seperti adanya kisah Ki Andong Sari di desa tersebut. Tak hanya itu, ada suatu kesenian yang masih tetap hidup selama ratusan tahun hingga saat ini. Awalnya, kesenian tersebut merupakan permainan anak-anak gembala, sebelum dikenalnya agama oleh manusia. Kesenian tersebut dikenal dengan nama Sandur.
Sandur adalah permainan anak-anak yang sangat sederhana. Mengajarkan kita tentang apa itu arti kehidupan. Apa itu hidup? Dan seiring berkembangnya zaman, Sandur menjadi sebuah pertunjukan di kalangan masyarakat. Karena kesederhanaannya itulah, saya tertarik dengan Kesenian Sandur ini.
Sandur dikenal dengan banyak arti. Ada yang menyebutkan bahwa Sandur berasal dari kata “beksane mundur”. Beksan berarti tarian, jadi diartikan menjadi tarian mundur. Karena ditarikan dengan cara mundur. Lalu, ada pula yang menyebutkan bahwa Sandur bersal dari kata “isan” dan “tandur”. Arti isan sendiri adalah sesudah, jadi maksud permainan Sandur itu adalah perwujudan syukur pada Sang Pencipta setelah melakukan tandur atau menanam tanaman pertanian, biasanya seperti padi, randu, dan lain sebagainya. Namun, banyak masyarakat setempat termasuk Bapak Djagat Pramudjito meyakini bahwa Sandur berarti “sanepane urip”. Maksudnya, Sandur merupakan perlambang hidup. Karena di dalamnya menceritakan tentang kisah hidup manusia sejak lahir hingga tutup usia.
Sandur adalah seni teater tradisional yang biasanya ditampilkan saat seusai tandur, saat hajatan, atau acara lainnya. Sandur biasa ditampilkan pada sebuah arena atau tanah lapang. Dan dibentuk suatu panggung yang disebut dengan “Blabar Janur Kuning”, memiliki luas sekitar 8 x 8 meter persegi. Lalu, di bagian kanan kirinya diberi bambu sepanjang sepuluh hingga dua belas meter, dan dikaitkan dengan seutas tali tambang pada setiap ujungnya.
Pertunjukan Sandur diawali dengan tokoh Germo yang “nggundhisi” atau memberikan prolog sebagai pembukaan. Lalu, memanggil dewa-dewi dari kahyangan untuk turun ke bumi. Dilanjutkan dengan menyanyikan tembang-temabng dolanan yang dilantunkan oleh Panjak Hore, diiringi dengan tabuhan gendang dan gong bumbung yang dimainkan oleh Panjak Gendang dan Panjang Gong. Lalu, dilanjutkan dengan penampilan jaranan. Dan disusul oleh Cawik, Balong, Pethak, dan Wak Tangsil yang dirasuki oleh dewa-dewi kahyangan. Cawik dirasuki oleh Dewi Suprobo, Balong dirauki oleh Dewi Drustanala, Pethak dirasuki oleh Dewi Wirutama, dan Wak Tangsil dirasuki oleh Dewi Gegar Mayang.
Keempat pemain Sandur tersenut mengenakan busana anak wayang atau merupakan busana kahyangan. Maka dari itu, ada yang menyebutkan bahwa Sandur berasal dari kata “busanane dhuwur”. Untuk tokoh Germo dan Pancak mengenakan pakaian serba hitam. Germo sendiri diyakini berasal dari kata “blegere sukmo”. Maksudnya adalah badan yang besar. Jadi, ciri khas dari Germo itu sendiri adalah memiliki badan yang besar.
Dalam Sandur, diceritakan kehidupan manusia mulai dari mencari pekerjaan, lalu bercocok tanam. Diceritakan mulai dari menanam padi, tembakau, hingga menanam randu. Salah satu hama randu adalah kelelawar. Nah, adegan menanam randu inilah sebagai pertanda bahwa pertunjukan Sandur akan segera berakhir. Dengan munculnya kelelawar atau “kalong” yang melakukan atraksi akrobatik bernama Kalongking. Kalongking itu sendiri merupakan simbol dari kehidupan manusia. Mulai dari awal, pemain kalongking menaiki bambu yang berada di samping blabar, lalu beratraksi di atas tali tambang. Sedangkan pemain kalongking tersebut dibedhili atau ditembak, karena kelelawar dianggap sebagai hama oleh masyarakat setempat. Namun, meskipun begitu kelelawar juga makhluk ciptaan Tuhan, dan mereka juga butuh hidup.
Biasanya pertunjukan Sandur ini berlangsung dari pukul sembilan malam hingga menjelang Shubuh. Pertunjukan ini ditujukan untuk semua kalangan. Masyarakat setempat sangat berantusias untuk melihat pertunjukan tradisional ini. kesenian Sandur masih bertahan hingga saat ini, karena juga terdapat suatu kelompok Sandur yang masih aktif hingga saat ini. Untuk nama kelompok Sandur Sekarsari sebenarnya sudah dibentuk sejak tahun 1995. Namun sebenarnya kelompok Sandur ini sudah berdiri sejak lama. Diprakarsai oleh seorang yang dikenal dengan nama Mbah Pahing, lalu dilanjutkan oleh putranya yang bernama Mbah Sukadi.
Terdapat tokoh-tokoh Sandur terkenal seperti almarhum Pak Masnoen yang biasa memerankan Germo. Pak Masnoen ini membentuk kelompok Sandur baru pada 2010 yang diberi nama Sandur Kembang Desa yang dikelola oleh Sanggar Sayap Jendela. Sandur dalam kelompok ini sudah tidak lagi menggunakan hal-hal magis seperti memanggil dewa-dewi dari kahyangan yang sekaligus dianggap sebagai ajaran Agama Hindu. Semuanya murni dari keahlian manusia itu sendiri.
Mengingat pada tahun 75-an lalu, Sandur sempat ditentang oleh pihak-pihak beragama Islam, bahwa Sandur tidak layak lagi untuk ditampilkan karena menganut ajaran-ajaran Hindu. Terbukti bahwa adanya tembang “Ilir Gantu” di awal pertunjukan itu, menunjukkan adanya ajaran Hindu. Pada akhirnya Bapak Djagat Pramudjito  ̶ seorang seniman Sandur pun mengubah lirik-lirik tembang yang mengandung ajaran Hindu dengan kalimat yang lebih bisa diterima oleh masyarakat setempat yang saat itu sudah banyak yang memeluk Agama Islam. Meski sebagian besar lirik tembang-tembang dalam Sandur diubah, tembang tersebut tetap tidak menghilangkan ciri khas dari Sandur itu sendiri.
“Aja haru biru, anak Adam gawe dolanan…”
Merupakan sebuah awalan yang menandakan bahwa Sandur adalah permainan anak-anak. Dan seiring berjalannya waktu, dikemas menjadi sebuah pertunjukan teater tradisional. Namun, sayangnya belum banyak yang mengenal kesenian daerah ini.
Sandur terdiri dari empat pemain utama, dan satu pemain penyempurna. Yang memiliki makna “papat limo pancer”. Yakni menggambarkan tentang empat sifat dasar manusia, yaitu plegmatis, melankolis, sanguinis, dan koleris. Sedangkan limo pancer digambarkan oleh sosok Germo yang berarti “paugeran limo”.
Dahulu, Sandur ditampilkan saat sesudah menanam padi atau tanaman pertanian lainnya. Saat ini Sandur bisa ditampilkan jika ada hajatan, pertunjukan seni, atau acara lainnya. Misalnya, ditanggap oleh seseorang yang sedang memiliki acara. Pendapatan dalam pertunjukan Sandur ini tidak tetap. Menurut salah satu pemain Sandur yang saya temui, biasanya pendapatannya disesuaikan dengan seberapa jauh jarak yang ditempuh untuk menampilkan Sandur. Bila tempat pentasnya semakin jauh, maka pendapatannya juga semakin bertambah. Karena terdapat biaya untuk transportasi. Jika tampil di dalam kota saja, pendapatannya bisa mencapai empat hingga lima juta rupiah.
Tidak seperti dahulu, pertunjukan Sandur tidak akan tampil jika pemainnya belum berjumlah empat puluh empat orang. Supaya Sandur bisa segera dimainkan, banyak penonton yang ikut serta memasuki blabar, dan berperan sebagai panjak hore. Lantas, mengapa hal itu dapat terjadi? Karena pada zaman itu, pertunjukan Sandur masih menggunakan bantuan dewa-dewi dari kahyangan. Sedangkan jumlah dewa-dewi yang turun adalah empat puluh empat, maka juga harus ada empat puluh empat pemain Sandur untuk dirasuki keempat puluh empat dewa-dewi tersebut.

Sandur menceritakan tentang kesederhanaan kehidupan manusia. Sandur mengajarkan kepada kita tentang keselarasan hidup manusia dengan alam semesta. Dengan kesederhanaan itulah kita harus melestarikan kesenian sandur agar tidak mati. Agar generasi penerus kita mengerti jika ada kesenian tradisional yang tidak kalah menarik dengan budaya-budaya asing yang semakin menjamur di masa kini. Sebagai penduduk asli Bojonegoro, sudah saatnya kita memperkenalkan kesenian sandur kepada masyarakat luas. Agar rakyat Indonesia bisa mengenal sandur secara dekat. Lalu apa lagi? Mari kita memulainnya!! 











Wednesday, June 17, 2015

Waiting Pascal’s Law in Big Ben

            Udara pagi ini segar sekali, aku sangat menyukainya. Bunga-bunga bermekaran di setiap tempat, warna-warnanya yang mencolok menjadikan hidup ini lebih berwarna. Ya, saat ini adalah pertengahan musim semi di London, saat yang paling istimewa bagi turis asing yang berlibur di London. Tak kusangka, ternyata hari ini adalah hari ulang tahunku ke tujuh belas, tanggal 17 Maret 2015 tepatnya. Aku segera berganti pakaian dan buru-buru menuju garasi untuk mengambil sepedaku.
            “Vanessa, wait... Where do you go?” tiba-tiba daddy bertanya padaku.
“I just wanna go to Big Ben, Daddy. Just an hour, I promise!” jelasku seraya mencium tangannya.
“Okay, be careful my sweetie.” ucapnya sambil mencium pipiku dan mengacak rambutku yang terurai.
“Bubye Daddy! I love you!” teriakku dari kejauhan. Terdengar balasan setelahya, tapi aku tak tahu pasti apa yang dikatakannya, mungkin ia mengatakan “bye”, “see you”, atau semacamnya. Aku bergegas mengayuh sepeda pink kesayanganku itu menuju Big Ben –menara jam terbesar kedua setelah Makkah Clock Royal Tower. Tepatnya di daerah Westminster, London. Kira-kira berjarak sekitar dua kilometer dari rumah, jika mengendarai sepeda mungkin bisa menempuh tiga puluh menit. Perjalanan menuju Big Ben sangatlah indah ketika musim semi seperti ini, karena kita akan sangat mudah menjumpai bunga bermekaran berbagai jenis dan warnanya. Sepanjang sisi jalan disini dipenuhi bunga, pemandangan yang sungguh indah.
Aku tinggal di London sejak aku balita, daddy asli United Kingdom bisa dibilang british, sedangkan mommy asli Indonesia. Namun, aku lebih mirip dengan daddy. Matanya yang biru, hidungnya yang mancung, lesung pipinya yang dalam, juga alisnya yang tebal semua menurun padaku. Namun, ada satu hal yang tidak mirip. Yaitu rambut, rambut daddy yang blonde itu tidak mirip denganku. Rambutku seperti orang Indonesia, berwarna hitam sempurna. Jadi, terlihat jelas jika aku campuran British-Asian.
Tiga puluh menit pun berlalu, aku sudah sampai di menara jam yang tingginya sekitar 96 meter ini. Banyak orang berlalu lalang disana, hingga sulit untuk menemukan bangku kosong disana.
“Excuse me, can I sit here?” aku bertanya pada seorang perempuan yang usianya kira-kira tidak jauh dariku, dan berusaha mengusirnya secara halus. Oke, bisa dibilang modus.
“Ehm… Okay, no problem. You can sit here, I wanna go there. Bye!” ucapnya ramah dengan senyuman tipis mengembang di sudut wajahnya yang cantik.
“Thank you. Bye!” oke, sekarang aku bisa menempatinya sendirian hingga “Pascal’s Law” tiba. Ya, jika dia benar-benar kembali kesini tahun ini. Aku selalu teringat kejadian lima tahun lalu di tempat ini dan waktu yang sama. Saat itu, aku sedang duduk-duduk di bangku –yang sama dengan yang ku duduki saat ini- sambil menunggu orang tuaku menjemput, aku menikmati cotton candy yang telah kubeli. Tiba-tiba saja ada anak laki-laki seusiaku yang duduk di samping kananku, tanpa mengucap permisi sekalipun. Sungguh tidak sopan pikirku, aku hanya melongo melihat sikapnya yang aneh bin ajaib itu. Dan tak kusangka, beberapa menit kemudian dia mengajakku berbicara.
“H-hi... So-orry for my fault, sit here without ask you.” ucapnya gagap dan menyesal sambil mengulurkan tangannya ke arahku.
“No, problem. But, why you look like so tired? You’ve been jogging?” tanyaku penasaran sambil bersalaman dengannya.
“No! I had runaway from my Social Club. I didn’t like Social, I loved Science. But, it’s some kind of compulsion. I hate this!”
“I’m sorry for hear that.” ucapku turut bersedih mendengarnya.
“Don’t say sorry! You didn’t made any mistakes.” ucapnya dengan menatapku tajam. Tatapan matanya yang tajam dan dagunya yang tegas cukup jelas jika dia adalah orang yang serius. Kami terdiam beberapa saat hingga dia memulai percakapan lagi.
“Do you know Blaise Pascal?” dia bertanya dan aku hanya mengangguk. “He was a French mathematician, physicist, inventor, and writer. I really like his theory, or people called Pascal’s Law. He was a great philosopher. I learn this theory in my encyclopedia book.” jelasnya sambil menunjukkan bukunya yang super tebal. Tiba-tiba saja ada seseorang memanggilnya dari kejauhan.
“Ben! Let’s go home!” yang aku ingat hanya itu, Ben panggilannya. Tanpa perpisahan, perkenalan, kami pun berpisah. Aku masih menyimpan satu benda darinya, kompas. Ya, kompas itu terjatuh dari tas-nya. Sewaktu mengembalikan ternyata orangnya sudah hilang, lalu aku simpan saja sebagai kenangan.
Dari pertemuan yang singkat itu, aku penasaran dengannya. Hingga aku menunggunya setiap tahun disini. Namun, tak juga kami bertemu lagi. Tak terasa sudah setengah jam aku menunggu dia –Pascal’s Law aku menyebutnya- disini, hingga cotton candy-ku sudah habis, aku masih menyimpan kompas itu dan membawanya saat ini. Aku teringat pada janjiku bahwa aku harus segera pulang, lalu aku pulang tanpa bertemu dengannya.
“Vanessa, Mommy wants to introduce you with my friend’s child from Aussie.” teriak mommy dari dalam rumah, ketika aku masih di garasi.
“Okay, Mom! Wait…” aku segera berlari menuju ruang tamu, dan ternyata “Pascal’s Law” kembali. Ben.


Profil :
I’m Ferly Arvidia, just a little girl who loves writing, science, and music so much. Follow my Twitter and Instagram : @ferly_aa . Thanks a lot
.

Wednesday, June 25, 2014

Ini Kisahku. Bagaimana Kisahmu?

Missisippi Missisippi.. Permisi...
Saya numpang lewat. Anggap post ini gak ada. Saya hanya ingin sekedar bercerita.

#FlashbackOn
Waktu Upacara Pembukaan, hari Kamis, tanggal 19 Juni 2014, pagi harinya. Awal ku berjumpa denganmu. Sore Harinya, awal ku berkenalan dengan dirimu. Malam harinya, kembali ku bertemu denganmu. Drama Kemanusiaan :') . Hari Jum'at, tanggal 20 Juni 2014, pagi harinya. Senam pagi bersama. Siang harinya, ku melihatmu dari tenda. Dalam kejauhan. Malam harinya, kau menjadi pemeran utama dalam Pentas Seni. Aku melihatmu. Namun, mungkin kau tak melihatku. Karena malam itu begitu gelap. Gerakan tarimu yang kaku dan lucu. Lapangan Sukorejo :') . Hari Sabtu, tanggal 21 Juni 2014. Aku hanya bisa menatapmu dari kejauhan. Hari Minggu, tanggal 22 Juni 2014. Kau yang memakai seragam serba biru. Mengenakan tas ransel. Mengenakan topi. Mengenakan sepatu putih garis biru. Aku ingat semuanya. Masih tersimpan baik dalam memoriku. Senyumanmu yang manis. Dan tatapan matamu yang meneduhkan hati ini. Membuatku semangat. Pukul 8 pagi hingga 12 siang. Travelling di Hutan berbukit yang takkan pernah ku lupakan :') . Malam harinya, kembali ku berjumpa denganmu. Di sebrang gedung Drama Kemanusiaan. Gedung Paduan Suara. Kau bernyanyi dengan semangat. Gerakanmu yang kaku menjadi daya tarik tersendiri bagiku. Malam terakhir disana. Aku sedih. Aku takut. Jikalau aku takkan pernah bertemu denganmu lagi. Hari Senin, 23 Juni 2014. Hari terakhir ku berjumpa denganmu. Saat Upacara Penutupan. Aku selalu memperhatikanmu setiap waktu. Aku benar-benar takut berpisah denganmu. Dan tiba saatnya kita berpisah. Aku menangis ketika perjalanan pulang di Bus. Aku benar-benar takut tak bisa berjumpa lagi denganmu suatu saat. Aku hanya berharap. Dan semoga harapanku 'tuk bertemu denganmu kembali akan tercapai. Amin. Lima hari bersamamu takkan pernah ku lupakan. Waktu begitu cepat berlalu. Dan hingga kini, aku masih selalu memikirkanmu. Aku belum bisa melupakanmu. Maafkan aku, jika aku terlanjur mencintaimu... :') ~

Never Forget JUMBARA VIII PMI Provinsi Jawa Timur. In Secaba Rindam V Brawijaya Jember. :))

#SoundtrackOn
Mengapa kita bertemu,
Bila akhirnya dipisahkan...
Mengapa kita berjumpa,
Tapi akhirnya dijauhkan...

Sunday, October 27, 2013

Happy Blogger Day!!

Hi~ guys!
Today, 27th of October 2013. Yes, today is Blogger Day. Happy Blogger Day for you all!!
Okay, sekarang aku ingin cerita kepada kalian para pengunjung setia blog aku ini. Tentang riwayat blogspot yang sudah berdiri selama kurang lebih satu tahun lamanya. Satu tahun yang lalu tepatnya pada tanggal 13 Oktober 2012, aku membuat blog ini. Dulu blog ini aku beri judul "Physics is Fun" kemudian beberapa hari berikutnya, aku ganti lagi menjadi "Physics World". Dan bertahan hingga awal tahun 2013 lalu. Dan kemudian aku ganti (again?) menjadi "Ferly Arvidia's Blog". Dan bertahan hingga saat ini. Oh ya, udah pada tahu kan? Namaku itu Ferly Arvidia Anindita. Nama di dunia maya sih cuma Ferly Arvidia. Dan teman-temanku entah di dunia nyata ataupun dunia maya, mereka memanggilku Ferly. Namun jika di rumah, aku dipanggil Nindi oleh keluarga dan juga tetanggaku. Banyak ya panggilanku? Hwehehe.
Aku blogging ini, gak ada yang ngajarin loh. Mau percaya atau tidaknya kembali pada diri kalian sendiri. Tapi aku bener loh, gak bohong. Jadi awalnya, aku itu lagi browsing. Dan kebetulan, blog yang aku kunjungi itu menggunakan 'Blogspot' sebagai medianya. Dan aku ikut 'Sign Up' di Blogger. Pertamanya, aku 'Sign Up' dulu di Gmail dan G+ (Google+). Dan aku langsung memiliki banyak teman-teman Blogger disana. Hingga akhirnya aku tertarik untuk membuat Blogspot juga. Dan jadi deh, Blogspot ala aku. Hwahaha. 
Ya, beginilah Blogspot aku. Blogspot yang biasa nan sederhana, namun memberikan berpuluhan informasi. Baik yang akademis maupun yang non-akademis (formal banget ya?). Jika kalian tertarik dengan Blogspot aku, kalian bisa tinggalkan Comment. Dan 'Share' alamat Blogspot ini ke teman-teman anda. Jangan lupa ya, untuk meninggalkan pesan, saran, ataupun kritik yang membangun. Aku tambah senang sekali jikalau kalian meninggalkan saran dan kritik tersebut. Karena itu semua dapat membangun-ku untuk menjadi yang lebih baik lagi lagi dan lagi. Aku akan menyaring semuanya, dan menjadikan itu pelajaran yang dapat mengajari kita dan mulai instropeksi diri dari semua kesalahan sebelumnya.
Mungkin sudah cukup, ceritaku kali ini. Kapan-kapan aku janji, akan posting yang lebih bermanfaat lagi. Sekian dan terima kasih. Bubye and see you in the next post.

Salam Calon Penulis,
Ferly Arvidia
@ferly_aa (twitter)
@feerliee (twitter)

Friday, October 25, 2013

Jenis-jenis Tanah yang Tersebar di Indonesia



1.          Tanah Alluvial
Alluvial adalah tanah yang berasal dari endapan lumpur yang dibawa melalui sungai-sungai. Secara umum, sifat jenis tanah ini mudah digarap, dapat menyerap air, dan permeabel sehingga cocok untuk semua jenis tanaman pertanian. Ciri-ciri tanah alluvial yaitu, jenis tanah masih muda, belum mengalami perkembangan, berasal dari bahan induk aluvium, tekstur beraneka, dan kesuburan umumnya sedang hingga tinggi. Tanah ini cocok ditanami padi, palawija, tembakau, tebu, sayuran, kelapa dan buah-buahan. Jenis tanah ini terdapat di Jawa bagian Utara, Sumatra bagian Timur, Kalimantan bagian Barat dan Selatan.Penyebarannya di lembah-lembah sungai dan dataran pantai seperti misalnya, di Karawang, Indramayu, Delta Brantas.

2.          Tanah Andosol
Tanah andosol terbentuk dari endapan abu vulkanik yang telah mengalami pelapukan sehingga menghasilkan tanah yang subur. Tanah ini memiliki ciri-ciri yaitu, merupakan jenis tanah mineral yang telah mempunyai perkembangan profil, warna coklat kekelabuan hingga hitam, kandungan organiknya tinggi, dan kelembapannya juga tinggi. Penyebarannya di daerah beriklim sedang dengan curah hujan diatas 2500 mm/tahun tanpa bulan kering, umumnya di jumpai di daerah lereng atau kerucut volkan dengan ketinggian diatas 800 m diatas permukaan laut. Andosol kebanyakan terdapat di pulau-pulau yang memiliki gunung api aktif, seperti di Sumatra bagian Barat, Jawa, Bali, dan sebagian Nusa Tenggara.

3.          Tanah Entisol
Entisol berasal dari abu vulkanik hasil erupsi yang dikeluarkan gunung-gunung berapi berupa debu, pasir, kerikil, batu bom dan lapili. Selain itu berasal dari gunduk pasir yang terjadi di sepanjang pantai, misalnya diantara Cilacap dan Parangtritis (selatan Yogyakarta), dan Kerawang. Tanah tipe ini di sepanjang aliran besar merupakan campuran yang mengandung banyak hara tanaman sehingga dianggap subur. Entisol mempunyai ciri-ciri sebagai berikut yaitu, tanah yang baru berkembang,belum ada perkembangan horison tanah, meliputi tanah-tanah yang berada di atas batuan induk dan termasuk tanah yang berkembang dari bahan baru.

4.          Tanah Grumusol
Grumusol adalah tanah yang berasal dari batuan induk kapur dan tuffa vulkanik, sehingga kandungan organiknya rendah. Tanah grumusol pada umumnya mempunyai tekstur liat, berwarna kelabu hingga hitam, pH netral hingga alkalis, dan mudah pecah saat musim kemarau. Di Indonesia, jenis tanah ini terbentuk pada tempat-tempat yang tingginya tidak lebih dari 300 m di atas permukaan laut dengan topografi agak bergelombang hingga berbukit, temperatur rata-rata 25oC, curah hujan <2.500 mm, dengan pergantian musim hujan dan kemarau yang nyata. Persebarannya meliputi Sumatra Barat, Jawa Barat (daerah Cianjur), Jawa Tengah (Demak, Grobogan), Jawa Timur (Tuban, Bojonegoro, Ngawi, Madiun, dan Bangil), serta di Nusa Tenggara Timur. Pemanfaatan jenis tanah ini pada umumnya untuk jenis vegetasi rumputrumputan atau tanaman keras semusim (misalnya pohon jati).

5.          Tanah Humus
Tanah humus adalah tanah hasil pelapukan tumbuh-tumbuhan (bahan organik). Tanah humus ini sangat subur dan cocok untuk lahan pertanian, warnanya kehitaman. Tanah jenis ini terdapat di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan Papua.

6.          Tanah Inceptisol
Inceptisol adalah tanah yang terbentuk dari batuan beku, sedimen, atau metamorf masam atau basa. Inceptisol memiliki ciri-ciri sebagai berikut, yaitu adanya horizon kambik, dimana terdapat horizon penumpukan liat <20% dari horizon diatasnya, tanah yang mulai berkembang tetapi belum matang yang ditandai oleh perkembangan profil yang lebih lemah, mencakup tanah sulfat masam (Sulfaquept) yang mengandung horison sulfurik yang sangat masam, tanah sawah(aquept) dan tanah latosol. Tanah jenis ini banyak terdapat di Sumatera, Jawa dan Kalimantan. Sebagain besar tanah ini ditanami palawija (jawa) dan hutan/semak belukar (sumatera dan Kalimantan).

7.          Tanah Laterit
Tanah laterit adalah tanah yang banyak mengandung zat besi dan aluminium. Karena tua sekali maka tanah ini sudah tidak subur lagi. Tanah laterit berwarna merah muda sehingga disebut pula tanah merah. Tanah jenis ini banyak terdapat di daerah Jawa Timur, Jawa Barat, Kalimantan Barat dan Lampung.

8.          Tanah Latosol
Latosol adalah tanah yang terbentuk dari batuan beku,sedimen,dan metafomorf. Tanah latosol memiliki ciri-ciri yaitu, merupakan jenis tanah yang telah berkembang atau terjadi deferensiasi horison, solum dalam, tekstur lempung, warna coklat, merah hingga kuning, tersebar di daerah beriklim basah, curah hujan lebih dari 3000 mm/tahun, ketinggian tempat berkisar antara 300-1000 meter di atas permukaan laut, mudah menyerap air, memiliki pH 6 – 7 (netral) hingga asam, memiliki zat fosfat yang mudah bersenyawa dengan unsur besi dan aluminium, kadar humusnya mudah menurun. Tanah ini tersebar di kawasan Bukit Barisan (Sumatra), Jawa, Kalimantan Timur dan Selatan, Bali, Papua, dan Sulawesi.

9.          Tanah Litosol
Tanah litosol belum lama mengalami perkembangan tanah, akibat pengaruh iklim yang lemah, letusan vulkan, atau topografi yang terlalu miring atau bergelombang. Tanah litosol harus diusahakan agar dipercepat pembentukan tanahnya, antara lain dengna penghutanan atau tindakan lain untuk mempercepat proses pelapukan. Tanah jenis ini merupakan tanah mineral dengan sedikit perkembanan profil, tekstur tanah beraneka dan pada umumnya berpasir, tidak bertekstur, warna, kandungan batu, kerikil dan kesuburan bervariasi. Litosol dapat dijumpai di segala iklim, umumnya di topografi berbukit, pegunungan, dan kemiringan lereng miring hingga curam. Tanah litosol terdapat di daerah pegunungan kapur dan daerah karst di Jawa Tengah, Jawa Timur, Madura, Nusa Tenggara, dan Maluku Selatan.


10.      Tanah Kapur
Tanah kapur adalah tanah yang berasal dari batuan kapur yang pada umumnya terdapat di daerah pegunungan kapur dan berumur tua. Tanah ini tidak subur, tetapi masih dapat ditanami pohon jati, seperti daerah hutan jati di Pegunungan Kendeng, Blora, Jawa Tengah, dan di Pegunungan Sewu, Gunung Kidul, Yogyakarta. . Persebarannya banyak terdapat di daerah pegunungan kapur, seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, Nusa Tenggara, Jawa Barat, Sulawesi, Maluku dan Sumatera.

11.      Tanah Mergel
Tanah mergel adalah tanah yang terjadi dari campuran batuan kapur, pasir dan tanah liat. Pembentukan tanah mergel dipengaruhi oleh hujan yang tidak merata sepanjang tahun. Tanah mergel termasuk jenis tanah yang subur dan banyak terdapat di lereng pegunungan dan dataran rendah, misalnya Solo (Jawa Tengah), Madiun, dan Kediri (Jawa Timur).

12.      Tanah Organosol
Tanah organosol adalah tanah yang terjadi dari bahan induk organik, seperti gambut dan rumput rawa pada iklim basah dengan curah hujan lebih dari 2.500 mm/tahun. Tanah ini mempunyai ciri-ciri sebagai berikut, yaitu tidak tejadi deferensiasi horison secara jelas, ketebalan lebih dari 0,5 m, warna coklat hingga kehitaman, tekstur debu lempung, tidak berstruktur, konsistensi agak lekat, kandungan organik lebih dari 30% untuk tanah tekstur lempung dan lebih dari 20% untuk tanah tekstur pasir, umumnya bersifat sangat asam (pH 4,0), dan kandungan unsur hara rendah. Jenis tanah ini terdapat di Jawa, daerah pasang surut di daratan Timur Sumatra, pantai Kalimantan bagian barat dan selatan, serta pantai Papua (Irian jaya) bagian barat dan selatan yang kesemuanya kaya akan unsur hara.

13.      Tanah Oxisol
Oxisol adalah tanah yang kaya akan besi dan aluminium oksida. Tanah jenis ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut, yaitu solum yang dangkal, kurang dari 1 meter, kaya akan seskuioksida yang telah mengalami pelapukan lanjut, adanya horizon oksik pada kedalaman kurang dari 1,5 m, susunan horison A, B, dan C dengan horizon B spesifik berwarna merah kuning sampai kuning coklat dan bertekstur paling halus liat, mengandung konkresi Fe/Mn lapisan kuarsa. Banyak digunakan untuk perladangan, pertanian subsisten pengembalaan dengan intensitas rendah, dan perkebunan yang intensif seperti perkebunan tebu, nanas, pisang dan kopi. Tanah jenis ini tersebar di daerah tropik basah.

14.      Tanah Padas
Tanah padas adalah tanah yang amat padat, karena mineral di dalamnya dikeluarkan oleh air yang terdapat di lapisan tanah sebelah atasnya. Sebenarnya tanah padas tidak dapat dikatakan tanah, karena tanah telah hilang dan sisanya terdiri dari lapukan batuan induk. Kandungan organik tanah ini rendah bahkan hampir tidak ada dan peka terhadap erosi. Jenis tanah ini terdapat hampir di seluruh wilayah Indonesia.

15.      Tanah Pasir
Tanah pasir adalah tanah yang berasal dari batu pasir yang telah melapuk. Tanah ini sangat miskin, tidak berstruktur, sedikit mengandung bahan organik dan kadar air di dalamnya sangat sedikit. Tanah pasir terdapat di pantai barat Sumatra Barat, Jawa Timur, dan Sulawesi. Tanah pasir yang terdapat di pantai berpasir disebut sand dune. Di daerah ini dipengaruhi oleh angin, seperti bukit pasir di Pantai Parangtritis, Yogyakarta.

16.      Tanah Podsol
Tanah podsol terbentuk karena pengaruh curah hujan yang tinggi dan suhu yang rendah. Tanah podsol mempunyai ciri-ciri sebagai berikut, yaitu jenis tanah ini tidak mempunyai perkembangan profil, tekstur lempung hingga pasir, kandungan pasir kuarsanya tinggi, kesuburannya rendah dan warnanya kuning dan kuning kelabu. Penyebarannya di daerah beriklim basah, curah hujan lebih dari 2000 mm/tahun tanpa bulan kering. Misalnya daerah Kalimantan Tengah, Sumatra Utara dan Irian Jaya.

17.      Tanah Podzolik Merah Kuning
Tanah podzolik merah kuning merupakan jenis tanah yang memiliki persebaran terluas di Indonesia. Berasal dari bahan induk batuan kuarsa di zona iklim basah dengan curah hujan antara 2.500 – 3.000 mm/tahun. Sifatnya mudah basah dan mudah mengalami pencucian oleh air hujan, sehingga kesuburannya berkurang. Dengan pemupukan yang teratur, jenis tanah ini dapat dimanfaatkan untuk persawahan dan perkebunan. Tersebar di dataran-dataran tinggi Sumatra, Sulawesi, Papua, Kalimantan, Jawa Barat, Maluku, dan Nusa Tenggara.

18.      Tanah Regosol
Tanah regosol adalah tanah yang terbentuk akibat pelapukan batuan yang mengandung abu vulkanik, pasir pantai dan nafal. Ciri-cirinya yaitu, Tanah regosol merupakan hasil erupsi gunung berapi, Jenis tanah masih muda, belum mengalami deferensiasi horison, bersifat subur, berbutir kasar, berwarna keabuan, kaya unsur hara, pH 6 – 7, cenderung gembur, kemampuan menyerap air tinggi, dan mudah tererosi. Persebaran jenis tanah ini di Indonesia terdapat di setiap pulau yang memiliki gunung api, baik yang masih aktif ataupun yang sudah mati. Seperti Jawa, Sumatra, dan Madura. Banyak dimanfaatkan untuk lahan pertanian.

19.      Tanah Rendzina
Tanah rendzina tersebar tidak begitu luas di beberapa pulau Indonesia. Berdasarkan luasannya, daerah-daerah di Indonesia yang memiliki jenis tanah ini adalah Maluku, Papua, Aceh, Sulawesi Selatan, Lampung, dan Pegunungan Kapur di Jawa. Rendzina memiliki ciri-ciri yaitu, merupakan tanah padang rumput yang tipis berwarna gelap, terbentuk dari kapur lunak, batu-batuan mergel, dan gips. Pada umumnya memiliki kandungan Ca dan Mg yang tinggi dengan pH antara 7,5 – 8,5 dan peka terhadap erosi. Jenis tanah ini kurang bagus untuk lahan pertanian, sehingga dibudidayakan untuk tanaman-tanaman keras semusim dan palawija.

20.      Tanah Ultisol
Ultisol adalah tanah asam dengan lapisan yang dalam, terbentuk di hutan dan terdiri dari tanah liat. Ciri-ciri tanah ini yaitu, kandungan bahan organik, kenjenuhan basa dan pH rendah (pH 4,2-4,8), terjadi proses podsolisasi: proses pecucian bahan organik dan seskuioksida dimana terjadi penimbunan Fe dan Al dan Si tercui, bahan induk seringkali berbecak kuning, merah dan kelabu tak begitu dalam tersusun atas batuan bersilika, batu lapis, batu pasir, dan batu liat, terbentuk dalam daerah iklim seperti Latosol, perbedaan karena bahan induk : Latosol terutama berasal dari batuan volkanik basa dan intermediate, sedang tanah Ultisol berasal dari batuan beku dan tuff. Tanah yang paling luas penyebarannya di Indonesia: Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Papua, dan sebagian Jawa . Sebaiknya tanah ini dihutankan atau untuk perkebunan seperti : kelapa sawit, karet dan nanas.

21.      Tanah Vertisol
Vertisol adalah tanah liat  tinggi yang mengembang  pada waktu basah dan pecah-pecah pada waktu kering. Ciri-ciri dari tanah ini yaitu, solum yang dangkal, kurang dari 1 meter, kaya akan seskuioksida yang telah mengalami pelapukan lanjut, adanya horizon oksik pada kedalaman kurang dari 1,5 m, susunan horison A, B, dan C dengan horizon B spesifik berwarna merah kuning sampai kuning coklat dan bertekstur paling halus liat, mengandung konkresi Fe/Mn lapisan kuarsa. Banyak digunakan untuk perladangan, pertanian subsisten pengembalaan dengan intensitas rendah, dan perkebunan yang intensif seperti perkebunan tebu, nanas, pisang dan kopi. Tanah ini tersebar di daerah dengan musim kering musiman.

22.      Tanah Vulkanis
Tanah vulkanis adalah tanah yang berasal dari pelapukan batuan-batuan vulkanis, baik dari lava/batu yang telah membeku (effusi) maupun dari abu vulkanis yang telah membeku (efflata). Daerah pembekuan lava tidak begitu luas dibanding daerah abu vulkanis. Contoh tanah vulkanis, yaitu tanah tuff yang terbentuk dari abu gunung api dan bersifat sangat subur. Tanah tuff terdapat di Lampung, palembang, dan Sumatra Barat, sedangkan daerah yang terkena letusan gunung berapi terisi abu vulkanis, seperti Bandung, Garut, dan sekitarnya baik untuk jenis pertanian karena sangat subur. Tanah vulkanis terdapat di Jawa, Sumatra, Bali, dan beberapa wilayah lain yang memiliki gunung api.

23.      Tanah Hidromorf Kelabu
Tanah hidromorf kelabu terbentuk akibat pelapukan batuan tufa vulkanik asam dan batu pasir. Jenis tanah ini perkembangannya lebih dipengaruhi oleh faktor lokal yaitu topografi yang berupa dataran rendah atau cekungan, hampir selalu tergenang air dan warna kelabu hingga kekuningan.

24.      Tanah Argosol atau tanah gambut
Tanah Argosol terbentuk dari sisa-sisa tumbuhan rawa yang mengalami pembusukan. Jenis tanah ini berwarna hitam hingga cokelat. Tanah jenis ini terdapat di rawa Sumatera, Kalimantan, dan Papua. Tanaman yang tumbuh di tanah argosol adalah karet, nanas, palawija, dan padi.