Monday, March 30, 2020

Peran Generasi Milenial dalam Dunia Kerja di Masa Mendatang


Peran Generasi Milenial dalam Dunia Kerja di Masa Mendatang

Kaum terpelajar memiliki peran yang signifikan bagi masa depan sebuah bangsa.” –

Dewasa ini, teknologi sangat berperan dalam kehidupan sehari-hari. Globalisasi bukan hanya proses masuknya budaya asing ke sebuah negara yang akan berdampak buruk jika tidak disaring. Semakin ke sini, globalisasi membawa banyak dampak. Termasuk dalam bidang teknologi. Setiap bertambahnya waktu, teknologi kian diperbaiki dan semakin canggih. Manusia akan menghadapi dilema otomatisasi. Seperti industri 4.0 yang dewasa ini kerap dibicarakan. Segala hal akan terselesaikan dengan bantuan kecanggihan teknologi. Semua berjalan dengan otomatis. Kini dunia berada dalam genggaman manusia.
Hal ini tentu membawa dampak negatif bagi peradaban sebuah bangsa. Manusia akan semakin sulit mendapatkan lapangan pekerjaan. Dan ini mendorong manusia untuk berpikir semakin kritis demi terciptanya inovasi dalam segala bidang. Agar mereka tidak kehilangan pekerjaannya. Apakah kita ingin, pekerjaan kita diambil alih oleh robot? Tentu tidak. Dengan dunia yang serba otomatis, manusia secara tidak langsung juga akan semakin malas. Bagaimana masa depan sebuah bangsa jika pemudanya hanya bermalas-malasan? Padahal masa depan sebuah bangsa ditentukan oleh kualitas anak mudanya.
Masa depan sebuah bangsa dalam sepuluh hingga dua puluh tahun ke depan berada di tangan generasi milenial. Sejak tahun 2016, tercatat 80% tenaga kerja berasal dari generasi Y atau yang biasa disebut generasi milenial. Generasi milenial sendiri adalah mereka yang terlahir antara tahun 1980 hingga 2000. Generasi inilah yang akan memegang peranan penting sebuah bangsa dalam beberapa masa mendatang. Memasuki dunia otomasi ini, generasi milenial sudah seharusnya membawa perubahan agar kualitas kinerja semakin meningkat dan tidak kalah saing dengan canggihnya teknologi. Teknologi boleh pintar, tetapi jangan sampai kita dibodohi oleh teknologi. Peran generasi milenial dalam dunia kerja tentu akan menentukan masa depan sebuah bangsa.
Hasil survei menemukan bahwa terdapat pergeseran besar yang secara total mengubah cara orang bekerja di masa depan. Terobosan di bidang teknologi, terbatasnya sumber daya dan faktor perubahan iklim, berpindahnya kekuatan ekonomi global, berubahnya struktur demografis, dan pesatnya urbanisasi merupakan penyebab signifikan perubahan cara orang dalam bekerja. Dalam hal ini, generasi milenial memiliki peran memperbarui cara kerja dan pola pikir generasi X yang sudah tidak cukup layak diaplikasikan dalam dunia serba modern ini. Generasi milenial mempunyai aspirasi nilai dan preferensi mereka sendiri mengenai bagaimana, di mana, dan kapan mereka bekerja dan berkolaborasi.
Dengan total 10.000 orang responden dari survei tersebut, lebih dari separuh meyakini bahwa kecanggihan teknologi akan mempengaruhi cara orang bekerja selama sepuluh hingga dua puluh tahun ke depan. Sedangkan, 39% dari sisanya meyakini perubahan cara kerja disebabkan oleh kelangkaan sumber daya dan perubahan iklim, 36% terjadi karena pergeseran kekuatan ekonomi global, 33% disebabkan oleh pergeseran demografis, dan 26% terjadi karena pertumbuhan tingkat urbanisasi yang sangat pesat. Adanya teknologi yang semakin berkembang, media sosial, dan analisis data berdampak sangat besar terhadap cara orang berkomunikasi, bekerja, dan berkolaborasi dengan kinerja generasi sebelumnya atau bahkan generasi setelahnya. Karena, saat ini saja dunia kerja berisi orang-orang dari generasi yang berbeda. Tenaga kerja yang tersedia akan semakin beragam dan jam kerja akan semakin panjang. Lantas, jenjang karir tradisional akan semakin terbelakang dan terlupakan.
Berubahnya dunia kerja tidak hanya terpengaruh oleh faktor-faktor eksternal seperti hasil yang didapatkan dari survei tersebut. Melainkan berubahnya dunia kerja justru juga terjadi karena generasi milenial itu sendiri. Seiring dengan bertambahnya pengalaman mereka, diharapkan generasi milenial tetap menjadi orang yang paling kreatif dan semangat di dunia kerja dalam beberapa masa mendatang.
Generasi muda dalam dunia kerja beberapa masa mendatang akan sangat berperan untuk menetapkan standar baru kepemimpinan. Terdapat beberapa faktor penting yang menjadikan milenial pemimpin di masa depan. Generasi X akan mulai pensiun, hal tersebut menimbulkan banyak kekosongan di perusahaan. Lalu, generasi X yang berpengalaman ingin berada di posisi yang sama, sedangkan pemimpin muda dengan usia di bawah 30 tahun semakin banyak disukai. Dengan begitu, milenial  menetapkan standar baru kepemimpinan seperti akan lebih memprioritaskan nilai, etika, fleksibilitas, dan timbal balik atau feedback. Meski milenial adalah generasi yang pemalu dari generasi sebelumnya, mereka juga memiliki motivasi yang tinggi.
Generasi milenial juga akan bersiap menghadapi generasi Z, yakni generasi di bawahnya. Pada tahun 2018, generasi milenial yang paling senior akan mulai mencatat perbedaan mereka dengan generasi penggantinya. Dengan demikian, milenial mulai mempersiapkan diri untuk menyesuaikan dengan perbedaan yang ada. Selain itu, milenial juga akan memperjuangkan keberagaman dan hak orang banyak. Milenial sangat peduli akan keberagaman dan kesetaraan. Hal ini dikarenakan generasi milenial yang sangat beragam. Milenial merasa bahwa keberagaman tidak ditangani dengan baik oleh generasi sebelumnya. Dengan banyaknya milenial memimpin organisasi, bahkan perusahaan besar, akan lebih banyak program dan keputusan yang berkaitan dengan keragaman dan penyetaraan hak.
Peran milenial selanjutnya dalam dunia kerja di masa mendatang adalah setia pada pekerjaannya. Meski kebanyakan orang menilai jika milenial suka berpindah perusahaan, dan tidak bisa berkomitmen dengan satu perusahaan saja. Hal ini memang ada benarnya, tetapi barangkali itu juga karena faktor usia mereka, bukan karakteristik generasi mereka. Seiring berjalannya waktu, tentu seseorang akan semakin dewasa dan cukup matang untuk berkomitmen.
Generasi milenial sudah pasti akan menjadi seorang pemimpin pada nantinya dan mereka harus bisa mewujudkan peranannya dalam dunia kerja di masa mendatang. Untuk dapat merealisasikan peranan tersebut, seorang pemimpin yang baik akan menerapkan karakter "Change Agent" atau agen perubahan dalam dirinya sendiri dan juga dalam perusahaannya.
Karakter agen perubahan yang pertama adalah “Clear Vision”. Clear vision sendiri berarti visi yang jernih. Jadi, seorang pemimpin yang baik harus memiliki target yang jelas. Memiliki arah strategis untuk mencapai hasil di masa datang, sehingga akan menuntun pengerahan sumber daya perusahaannya bagi pencapaiannya. Seorang pemimpin harus memikirkan dengan jelas apa yang diinginkan pada perusahaannya dan akan jadi apa perusahaannya nantinya. Sehingga program kerja dapat disusun dengan baik dan dengan tahapan yang berkesinambungan, karena arah yang dituju jelas. Pemimpin yang baik harus bisa menjelaskan ide dan konsep yang ada dalam pemikirannya secara jernih kepada orang lain dan terutama kepada anggota tim kerjanya.
Change agent kedua adalah “Patient yet Persistent”. Jadi, seorang pemimpin yang baik adalah pemimpin yang sabar namun gigih. Seorang pemimpin harus memiliki kegigihan untuk mencapai targetnya. Perubahan tersebut tentunya tidak dapat terjadi dalam semalam. Namun, sesuatu yang baik awalnya memang harus dipaksakan agar menjadi sebuah kebiasaan. Untuk memiliki perubahan berkelanjutan, seorang pemimpin harus melihat betapa pentingnya jika hal tersebut terlaksana. Kegigihan datang ketika seseorang akan mengambil kesempatan lagi, selangkah lebih dekat, dan tidak hanya menyerah dengan kegagalan pada percobaan pertama.
Yang ketiga, seorang pemimpin harus bersikap kritis dan analitis atau “Asks tough Question”. Dalam perusahaan tentu tidak selalu semua pekerjaannya akan berjalan mulus. Ada kala ketika seorang pegawainya mengalami suatu masalah. Pemimpin yang baik bukanlah mereka yang memberi tahu secara langsung pada pegawainya apa yang harus dilakukan, melainkan mereka yang terus mengajukan pertanyaan untuk membantu orang lain berpikir apa yang seharusnya dilakukan. Begitu juga pada dirinya sendiri, seorang pemimpin yang baik harus selalu bernalar dan menggunakan akal sehatnya. Tidak ada hal yang ditelan bulat-bulat tanpa mengerti substansinya.
Change agent yang keempat adalah “Knowledgeable and Leads by Example”. Seorang pemimpin bukan hanya memberikan instruksi, namun mereka yang kaya akan pengetahuan dan memimpin dengan memberikan contoh. Pemimpin yang ingin membuat perubahan, tidak hanya harus dapat mengartikulasikan seperti apa yang ia inginkan, namun menunjukkan bagaimana cara kerjanya. Seorang pemimpin harus menempatkan diri dalam situasi yang akan dihadapi perusahaannya. Bagaimana seorang pegawai harus bisa menjalani perubahan itu, sedangkan ia saja belum pernah mengalaminya? Jadi, seorang pemimpin sangat penting membayangkan dan menempatkan dirinya di posisi orang lain, agar ia tahu bagaimana cara yang tepat untuk mendorong perubahan pada mereka.
Yang terakhir, seorang change agent harus memiliki karakter ”Strong Relationships Built on Trust”. Seorang pemimpin harus membangun hubungan yang kuat dengan orang-orang di sekitarnya dengan membangun kepercayaan. Dengan kata lain, pemimpin yang baik harus memiliki integritas agar dapat dipercaya. Jika tidak memiliki kepercayaan yang kuat pada orang yang dipercaya dapat mendorong perubahan, orang lain tentu juga tidak bisa menaruh kepercayaannya dengan begitu saja. Seorang pemimpin tidak berhak takut mendekati orang lain berdasarkan otoritas mereka dan biasanya mereka akan keluar dari jalannya, lantas dapat terhubung dengan pemimpinnya. Karena seluruh hal di dunia, tentunya memiliki hukum timbal balik yang sesuai.
Dalam masa industri 4.0 ini, peranan generasi milenial sudah pasti akan sangat diperlukan untuk menjadi agen perubahan. Dunia akan memasuki masa otomasi. Di mana semua kegiatannya berjalan otomatis, bahkan tanpa memerlukan kinerja manusia. Hal itu menyebabkan banyak faktor yang dapat terjadi. Di antaranya adalah manusia yang konsumtif akan semakin malas, sedangkan manusia produktif akan semakin mencari inovasi agar pekerjaannya tidak direnggut oleh teknologi. Dan di lain sisi, manusia yang pemalas akan semakin susah mencari lapangan pekerjaan. Karyawan perusahaan bisa saja secara massal diberhentikan pekerjaannya, karena telah digantikan oleh teknologi. Otomatis pengangguran juga akan semakin meningkat.
Dari hal-hal itulah, dunia kerja memerlukan pemimpin baru dengan ide-ide cemerlangnya dan mengubah cara kerja yang sudah mulai tua untuk ditinggalkan. Kini saatnya generasi milenial memikirkan apa yang akan ia tujukan pada bangsanya dalam dunia kerja yang akan ditempuh beberapa masa mendatang. Sebab, masa depan sebuah bangsa berada pada kualitas pemudanya. Dengan generasi milenial yang menerapkan karakter change agent dalam dirinya, tentu peran mereka dalam memperbaiki dan memperbarui cara kerja pada dunia kerja di masa mendatang akan tercapai nantinya. Dengan kata lain, generasi milenial adalah ujung tombak sebuah bangsa yang nantinya akan bersaing dengan bangsa-bangsa lainnya.

0 comments:

Post a Comment